PENJERNIH MINYAK JELANTAH

PENJERNIH MINYAK JELANTAH
Seperti kita ketahui bersama minyak goreng yang sudah di pakai berulang-ulang akan berubah warnanya menjadi kehitam-hitaman dan banyak mengandung zat-zat berbahaya untuk kesehatan. Sebaiknya penggunaan minyak goreng  cuma untuk 2 kali pemakaian, selebihnya bisa disebut sebagai jelantah dan tidak baik untuk digunakan lagi.
Minyak jelantah bisa digunakan lagi untuk penggunaan lain seperti pembuatan biodiesel, sabun dll yang bukan untuk dikonsumsi sebagai bahan makanan. Untuk penggunaan tersebut minyak jelantah perlu dijernihkan agar tidak merusak produk hasil olahan.
Kali ini kami mencoba sebuah cara prktis dan murah untuk menjernihkan minyak jelantah tanpa perlu bahan-bahan kimia berbahaya seperti bahan pemutih/hipocloride, atau  hidrogen peroksida,  nasi, arang atau bahan lainnya.
Penjernihan minyak jelantah yang murah cuma memerlukan bubuk kapur, sebungkus kapur bubuk dengan berat 1 Kg cuma dijual sekitar Rp 5.000,- saja dan biasa digunakan untuk mengecat dinding atau tembok rumah.
Sebagai contoh saya menggunakan 2 botol air kemasan ukuran tanggung,
Botol pertama saya isi sebagai sampel atau pembanding untuk hasil penjernihan.
Botol kedua di isi kapur bubuk sebanyak 4 sendok makan (semakin banyak semakin jernih)
lalu di masukkan minyak jelantah sebanyak 400 ml.


Botol berisi bubuk kapur dan minyak lalu di kocok sampai bubuk kapur dan minyak bercampur merata.



Diamkan botol tersebut selama ±12 jam(maksimal 24 jam), Kemudian botol berisi campuran minyak jelantah dan kapur di kocok lagi dan kembali di diamkan selama 24 jam atau lebih sampai bubuk kapur mengendap di dasar botol.
Bubuk kapur akan mengendap dan mengikat kotoran yang ada di minyak jelantah.
Dan anda akan mendapatkan minyak jelantah yang semula berwarna kehitaman sudah berubah warna menjadi jernih seperti pertama kali membelinya.


Bandingkan dengan minyak di botol pertama.
Jangan menggunakan minyak hasil penjernihan ini untuk di konsumsi, karena belum di teliti kandungan senyawa berbahaya yang terdapat didalamnya, hasil penjernihan ini dapat diolah sebagai bahan pembuatan biodiesel atau sabun dsb.
Selamat mencoba dan berkreasi
Nihdi
Video toturialnya dapat anda lihat di Link berikut ini : https://youtu.be/P9NyfFtwCi0

SD NEGERI vs SD SWASTA

SD Negeri VS SD Swasta

Sekitar 20% Guru SD Negeri memiliki kecenderungan  untuk menyekolahkan anaknya ke Sekolah Dasar Swasta yang notabene memiliki tingkat pembiayaan yang tinggi dan segan untuk menyekolahkan anaknya ke SD Negeri meskipun di situ dia mengajar mengapa?
Dari pengamatan  ternyata:
1.    SD Swasta memiliki waktu belajar lebih lama di banding SD Negeri.
2.    SD Swasta memiliki sejumlah prestasi yang patut di banggakan
3.    SD Swasta memiliki banyak Program-program unggulan dalam bidang keagamaan.
4.    Pembangunan sarana dan prasarananya bersumber dari sumbangan/iuran orangtua siswa sehingga perasaan memiliki sangat kuat dan berusaha memajukan sekolah tersebut.
5.    Para pengajarnya memiliki kualitas yang tinggi, sehingga cuma yang berdedikasi tinggi yang dapat mengajar di sana.
6.    Pekerjaan orangtua yang padat dan menyita waktu sehingga tidak bisa menyediakan waktu bersama anaknya pada waktu hari kerja (PNS Guru SD).
7.     Tingkat keuangan orangtua yang mapan apalagi  adanya program sertifikasi guru-guru.dll.

Sedangkan pada SD Negeri cuma beberapa saja yang seperti itu, padahal untuk bersekolah di situ gratis dan tidak perlu biaya mahal karena milik pemerintah. Pada kenyataannya beberapa SD Negeri cuma memiliki sedikit siswa yang merupakan sisa-sisa dari SD swasta. Jumlah siswa yang sedikit  membuat Sekolah Dasar Negeri sulit untuk berkembang dan diajar oleh guru yang merupakan orangtua dari siswa yang sekolah di SD Swasta
Secara logika terasa aneh sebagai seorang guru SD Negeri, malah menyekolahkan anaknya sendiri di sekolah swasta padahal dia mengajar di Sekolah Dasar Negeri dan perlu diketahui Sekolah Dasar Negeri memiliki sebuah program pendataan Dapodik yang disitu ada aturan-aturan tertentu yang harus dimiliki sekolah tempat dia mengajar seperti jumlah minimum siswa per rombel yang menentukan apakah dia itu Valid atau tidak sertifikasinya. Hal ini juga merupakan cermin bahwa tidak ada dalam dirinya dedikasi untuk memajukan sekolah yang tempat dia bekerja. Kalau hal ini terus berlanjut maka Sekolah-sekolah Dasar Negeri akan kekurangan siswa karena masyarakat pun akan menilai seperti ini  “kalau gurunya saja menyekolahkan anaknya sendiri di sekolah swasta mengapa kita tidak” Coba bayangkan dalam beberapa tahun jumlah siswa SD Negeri akan mengalami penurunan dan mungkin beberapa sekolah akan di ciut karena kekurangan  Siswa, padahal para guru  tersebut memerlukan jumlah siswa tertentu di sekolahnya untuk menentukan Valid tidaknya sertifikasinya yang nanti dananya digunakan untuk pembiayaan anaknya yang bersekolah di SD swasta. Dan nasib guru yang sudah atau belum Sertifikasi dapat anda tebak sendiri.

Pada hakekatnya kalau anda seorang guru SD Negeri maka sekolahkanlah anak anda di Sekolah Dasar Negeri karena hal ini membantu agar program pemerintah dan Sertifikasi guru SD tetap berlanjut. Dengan  jumlah siswa yang memadai dan bukan sisa dari SD Swasta sehingga tidak ada lagi sekolah yang jumlah siswanya sangat sedikit. Ini adalah gambaran dari kecamatan tempat kami mengajar. 
Kita dapat memulainya dari diri kita sendiri.(didi). 

SELINGAN Ini sebenarnya adalah foto lama cuma baru sempat di posting. Sekali-kali guru dan staf yang bertugas sebagai petugas upacara be...